Wellcome Text
Search Engine
Kamis, 18 Juli 2013
Senin, 17 September 2012
Bupati PAS laksanakan Putusan PTUN!!
Singaraja,11 September 2012 Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana, ST mengeksekusi Putusan PTUN Denpasar melalui Keputusan Bupati No. 820/1513/HK/2012 pasca dikeluarkannya Keputusan Bupati No.539/785/HK/2011 tertanggal 14 Desember 2011 tentang Pemberhentian dan Penunjukan Pelaksana Tugas Direktur Utama PD.Pasar Kabupaten Buleleng dimasa kepemimpinan Drs.Putu Bagiada, MM yang berujung pada gugatan di PTUN atas putusan tersebut dan akhirnya memenangkan Direktur Utama yang dilengserkan dan mewajibkan tergugat dalam hal ini Bupati Buleleng untuk merehabilitasi kedudukan dan jabatan penggugat pada posisi semula yaitu Direktur Utama PD.Pasar Buleleng jadi dengan demikian kembalilah PD.Pasar Buleleng di pimpin 3(tiga) orang DIreksi dan dihari pertama beliau melaksanakan tugas langsung diadakan rapat internal mendadak yang mengundang seluruh Kepala Pasar,Kepala Seksi, dan Staf yang ada namun sebelumnya pagi-pagi sudah dihadapkan pada persoalan klasik ada beberapa Pedagang Pasar Banyuasri yang melakukan aksi protes sehingga Bupati Buleleng memanggil beliau untuk dipertemukan di Kantor Bupati dan setelah pertemuan tersebut sehabis jam makan siang barulah dimulai rapat tersebut didalam pertemuan tersebut Satiwka Yadnya menyampaikan beberapa hal yang terjadi pada beliau selama ini selanjutnya mendengarkan laporan dari Kepala Seksi dan Kepala Pasar yang hadir pertemuan ini berlangsung lama karena banyak yang mesti dibahas dan rapat ini berakhir Pukul 17.15 Wita.
Selamat bertugas kembali kepada Bapak Satwika Yadnya selama sembilan bulan tidak bertugas dan sekarang baru kembali pastinya tugas berat didepan mata!!Semoga dengan kembalinya Pak Satwika masa depan PD Pasar Buleleng semakin cerah.
Selasa, 01 Mei 2012
Pasar Mumbul Terbakar
Kebakaran meludeskan ratusan tempat usaha pedagang di Pasar Mumbul,
Jalan A Yani, Singaraja, Bali Minggu (22/4/2012) dini hari. Kebakaran
di pasar loak dan pasar burung di Kota Singaraja itu kontan mengundang
perhatian warga karena terjadi beberapa jam menjelang pemungutan suara
Pilkada Buleleng 2012 yang dimulai Minggu sekitar pukul 07.00 tadi.
Keterangan
yang diperoleh, sedikitnya 115 los pedagang di Pasar Mumbul hangus dan
barang-barangnya ludes akibat dilalap si jago merah. Bangunan dua lantai
tersebut rusak, terutama lantai dasarnya.
Selain menghanguskan
gedung pasar, kebakaran juga merembet ke bangunan di sekitar pasar,
salah satunya sebuah ruko restoran di sisi timur gedung Pasar Mumbul.
Polisi
sudah memasang pita pembatas polisi di pintu masuk pasar terkait proses
penyelidikan kasus kebakaran di Pasar Mumbul itu.
Bupati Buleleng Putu Bagiada berjanji akan segera memperbaiki Pasar Mumbul yang terbakar tepat 4 jam sebelum digelarnya Pilkada Buleleng pada Minggu dinihari sekitar pukul 03.00 Wita.
"Pemerintah akan segera membenahi pasar yang terbakar dalam waktu dekat ini untuk agar para pedagang tetap melakukan aktifitasnya seperti biasa," ujarnya saat ditemui di Buleleng, Minggu (22/4).
Warga Buleleng yang tengah bersiap mengikuti Pilkada dikejutkan dengan terbakarnya Pasar Mumbul di Jalan Ahmad Yani, Singaraja dinihari tadi. Kebakaran hebat meludeskan hampir semua kios pasar loak tersebut terjadi sekira pukul 03.15 Wita.
Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut namun sedikitnya 114 kios ludes dilahap si jago merah. "Api berhasil dipadamkan sekira satu jam," kata Kabag Ops Polres Buleleng Kompol Ida Putu Wedana Jati.
Disinggung penyebab kebakaran, Wedana Jati mengatakan sampai saat ini masih dalam penyelidikan dan pihaknya masih mengumpulkan informasi di lapangan termasuk memintai keterangan saksi. Soal kemungkinan adanya unsur sabotase atau kesengajaan mengingat banyak ditemukan sumber titik api di lokasi, hal itu ditepisnya.
"Itu khan baru sebatas informasi, kami tidak berasumsi tetapi berdasar data dan fakta yang ada, informasi itu masih didalami," sergah dia. Usai kejadian tim Labfor Denpasar telah diterjunkan ke lokasi untuk melakukan olah TKP dan identifikasi di lokasi. Di pasar yang selalu dibanjiri warga yang bertransaksi barang bekas atau loakan
Senin, 16 Januari 2012
Rabu, 11 Januari 2012
News Update 2012
Terbitnya Perpres Nomor 112 Tahun 2007 tentang Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern, rupanya belum mampu memberikan iklim usaha yang kondusif bagi keberlangsungan pasar tradisional. Terus berkembangnya raksasa ritel membawa ancaman besar bagi pasar tradisional di perkotaan.
Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pasar Indonesia (Asparindo) Y. Joko Setiyanto mengingatkan pemerintah agar segera membuat kebijakan untuk menyelamatkan pasar tradisional. Rata-rata usia pasar tradisional, kata Joko, di atas 30 tahun dengan kondisi memprihatinkan. Sementara perkembangan pasar modern kian pesat dengan ragam fasilitas dan kenyamanan yang menyedot minat konsumen. Bandingkan dengan pasar tradisional, jangankan untuk berinovasi, menyediakan lahan parkir saja sudah sangat sulit. Untuk melakukan peremajaaan bukanlah perkara mudah. Inilah yang dikhawatirkan Joko. Di mana, kalau kondisi tersebut didiamkan, maka bukan tidak mungkin pasar tradisional semuanya akan mati.
Sebagai pengelola pasar, Joko merasakan betapa minimnya perhatian pemerintah terhadap pasar tradisonal. Padahal jumlah pasar tradisional diperkirakan lebih dari 11.000-an dengan jumlah pedagang mencapai 12,5 juta. Kalau digabungkan dengan anak dan istri, termasuk pemasok, kira-kira orang yang terlibat di pasar tradional, terang Joko, mencapai 50 juta orang. “Nasib mereka tolong dipikirkan,”terangnya penuh kesal.
Joko mencontohkan pedagang Pasar Induk Kramat Jati yang kini jumlahnya mencapai 4000 pedagang dan kuli bongkarnya mencapai 1500 orang. Belum hitung sopir angkut, dan 1 kios yang ditunggu 2 orang. Itu sudah luar biasa. Jadi pasar tradisional menyerap tenaga kerja luar biasa. Katakan Carrefour luasnya 1,5 hektar diubah menjadi pasar tradisonal, yang pasti dapat menyerap tenaga kerja ribuan orang, karena pemiliknya banyak dan merata. ”Nah kalau pasar tradisional mati, pedagangnya mau kemana. Apakah mau kita ekspor jadi TKW. Ini membahayakan bangsa,” jelasnya.
Asparindo demikian menyanyangkan sikap pemerintah. Karena lebih membela ritel raksasa. Padahal pendirian pasar modern itu harus ada syaratnya. “Dulu saya bilang rasionya itu, 1 dibanding 900.000 atau 750.000 penduduk. Katakan penduduk DKI 7,5 juta berarti bolehnya 10. Waktu penyusunan perpres kemarin saya sampaikan tapi tidak dimasukkan. Jadi katakan DKI 8 juta yang boleh hanya 9. Sekarang tidak ada parameternya. Sebenarnya aturan apapun harus berpihak kepada rakyat,” papar direktur PD Pasar Jaya, ini.
Menurutnya, di mana pun lokasi pasar modern, pasti selalu memiliki daya tarik. Lihat saja Hipermarket Sentul, Lippo, yang selalu ramai walaupun letaknya jauh. “Ritel besar di daerah kosong dan tempat sepi, bisa jadi ramai. Apalagi di tempat yang sudah ramai, pasti tambah ramai,” jelasnya.
Joko mengharapkan agar Perda -Perda ada harus diperbaharui. Tapi celakanya, lanjut Joko, kalau mau berencana mengganti peraturan, dibutuhkan waktu yang panjang. Bahkan mengubah saja, rapatnya bisa bertahun-tahun. Padahal bisnis 3 bulan sekali sudah berubah. Begitu mau diubah kebutuhannya sudah berubah.
Untuk mendukung tumbuh kembangnya pasar tradisional, menurut Joko, pemerintah dalam pembinaan pasar tradisional seharusnya memiliki induk setingkat direktur jenderal di departemen atau menteri muda. Lembaga tersebut khusus menangani pasar, setelah lembaganya ada baru mengurusi regulasi . Kalau semuanya terlaksana, bukan tidak mungkin keberadaan pasar tradisional kedepan mampu bersaing dengan ritel modern.
Rekomendasi kepada Presiden
Melihat betapa peliknya tantangan yang dihadapi pasar tradional, belum lama ini Asparindo melakukan Rakernas guna memberikan rekomendasi kepada pemerintah terkait dengan permasalahan pasar tradional. Pemerintah diminta memperhatikan pasar tradisional dengan upaya pemberdayaan pedagang pasar yang secara mandiri tidak akan mampu bersaing dengan ritel besar modern seperti hypermarket. Adanya perhatian pemerintah terhadap: pembinaan pasar tradisional, pembiayaan pedagang, pengelolaan pasar, peningkatan fisik lingkungan, isu lingkungan, status asset pasar, mutu produk, pengembangan pasar khusus.
Hal tersebut tersebut merupakan serangkaian rekomendasi hasil Rakernas Asparindo bulan Juni 2008, yang ditujukan kepada Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono.
Rekomendasi tersebut ditandatangani Ketua Umum Asparindo Y.Joko Setiyanto. Isinya antara lain, pengelolaan pasar tradisonal diharapkan mempunyai induk setingkat Direktorat Jenderal di Departemen Perdagangan RI, dengan demikian dana-dana pembinaan dan bantuan yang selama ini menyebar diberbagai departemen dapat lebih didayagunakan.
BRI telah bekerjasama dengan Asparindo dalam rangka mempercepat program Pembiayaan Pedagang, berupa program kredit usaha rakyat (KUR) bagi pedagang pasar serta meluncurkan standarisasi gerobag sayur KOKI (kios keliling). Diusulkan kepada Presiden kiranya pembangunan pasar-pasar tradisional dapat dibiayai dari DAK (Dana Alokasi Khusus) karena keterbatasan APBD biasanya pembangunan pasar-pasar dikabupaten/kota bukan menjadi prioritas utama, padahal keadaan pasar yang representatif sangat membantu pengembangan UKM serta dapat membatasi tumbuhnya pasar-pasar modern.
Khusus mengenai pengelolaan Pasar, Departemen terkait diminta perlu melakukan pembinaan dan membantu meningkatkan profesionalisme pengelolaan dengan melaksanakan program pelatihan manajemen pasar bekerjasama dengan perguruan tinggi dan asosiasi terkait.
Saat ini dijelaskan oleh Suhendro , Deputy Kerjasama dan Investasi Asparindo , rakernas asparindo tahun 2008 telah berhasil menyempurnakan dan menyetujui konsep “ Buku Pedoman Pembentukan dan Pengelolaan Perusahaan Daerah ’ yang secara komprehensif membahas berbagai aspek masalah perpasaran. Dari aspek pembentukan Perusahaan Daerah Pasar misalnya dibahas mengenai studi kelayakan, batasan/luasan mulai dari bentuk BLU (Badan Layanan Umum) sampai dengan berbentuk Perusahaan Daerah Pasar serta proses dan contoh penyusunan Perda. Dari aspek pengelolaan pasar antara lain dibahas mengenai profesionalisme, gradasi organisasi, pendekatan SWOT, Fit and Propertest Direksi, analisis finansial, pendanaan investasi. Buku pedoman Pembentukan dan Pengelolaan Perusahaan Daerah ini akan kami distribusikan ke seluruh Kabupaten dan Kota.
Suhendro menambahkan bahwa perlu dilakukan verifikasi mengenai database pasar tradisional yang diharapkan dapat dikerjasamakan dengan Departemen Perdagangan sehingga didapatkan peta yang jelas mengenai jumlah dan lokasi pasar, jumlah pedagang, jenis dagangan serta kondisi pasar di seluruh indonesia, sehingga dapat menjadi acuan dalam menentukan kebijakan pengembangan pasar tradisional, serta perlu diterapkan juga standarisasi pengelolaan pasar tradisional.
Dalam upaya peningkatan fisik bangunan, pemerintah pusat dan daerah perlu melakukan koordinasi dalam mengembangkan pembangunan pasar tradisional baik melalui pembiayaan pusat dan daerah serta swasta. Bupati atau walikota agar lebih mengambil peran dalam meningkatkan fasilitas dan kenyamanan pasar.Pasar yang dikelola agar lebih meningkatkan profesionalisme dan semakin kreatif mengembangkan aset pasar.
Menurut Joko, umumnya lingkungan pasar sangat kumuh, kotor dan sampah yang menumpuk, banyak yang belum memiliki unit pengolahan limbah, fisik pasar yang sudah tua. Hal ini membutuhkan dukungan kementerian terkait untuk meningkatkan kualitas lingkungan pasar. Asparindo juga meminta pemerintah daerah melakukan langkah strategis dalam memberdayakan pasar tradisional dengan melakukan peningkatan status aset menjadi HGB di atas HPL agar aset pasar lebih bankable.
Joko juga mengungkapkan mengenai pemahaman dan pengetahuan pedagang tentang produk yang tidak standar, seputar kemasan, cara penyimpanan dan pengawetan produk yang masih kurang, produk berformalin dan isu jaminan mutu pangan.
Kemudian, dalam hal pengembangan pasar khusus, Asparindo melihat potensi pasar tradisional yang luar biasa, tetapi masih belum dapat digali secara maksimal yaitu pusat logistik dan distribusi nasional, depo pasar, pasar wisata, pasar bunga, pasar seni dan kerajinan, pasar batu Aji, dan lain-lain.
“Itulah rekomendasi kami yang diberikan kepada presiden. Asparindo siap menjadi mitra strategis pemerintah dalam memberdayakan pasar tradisional dan menggerakan ekonomi nasional," papar Direktur PD Pasar Jaya ini dengan mata menerawang.
Minggu, 25 September 2011
MOU Bank BRI Singaraja dengan PD Pasar Buleleng
Singaraja,24-09-2011 Serangkaian dengan acara Pesta Rakyat Simpedes Bank BRI yang berlokasi di Taman Kota Singaraja dilaksanakan pula penanda tanganan MOU antara Bank BRI Singaraja dengan PD.Pasar Kabuapaten Buleleng dalam upaya implementasi dari MOU yang sudah di sepakati oleh Bank BRI Pusat dengan Asparindo sebagai induk organisasi PD Pasar seluruh Indonesia yang mana Bank BRI berkomitmen meningkatkan dan menggalakan sektor ekonomi kerakyatan melaui penyaluran Kredit Usaha Mikro kepada para Pedagang yang berjualan diseluruh pasar yang menjadi wilayah kerja PD.Pasar Kabupaten Buleleng dan PD Pasar dalam hal ini menyambut baik komitmen Bank BRI ini sehingga sektor ekonomi kerakyatan mampu eksis ditengah persaingan dengan pasar modern dan para pedagang terbantu dengan kredit yang digulirkan.
Kamis, 25 Agustus 2011
Selasa, 09 Agustus 2011
Rabu, 13 Juli 2011
Musyawarah Nasional II Asparindo
LATAR BELAKANG
Usaha perpasaran nasional saat ini berkembang sangat pesat khususnya perpasaran di kota-kota besar baik tradisional maupun modern, hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kebutuhan akan tempat usaha bagi masyarakat dan makin meningkat dan beragamnya keinginan konsumen dalam menentukan tempat berbelanja.
Asparindo yang beranggotakan seluruh pengelola pasar tradisional atau pasar daerah di Indonesia baik yang berada di kabupaten maupun kotamadya dengan jumlah pasar di seluruh Indonesia mencapai puluhan ribu pasar serta jumlah pedagang mencapai jutaan orang, terus berupaya agar mampu menjadi mitra strategis pemerintah dan membantu anggotanya agar lebih profesional, dan menjadikan pasar tradisional lebih nyaman dan kebanggaan daerahnya masing-masing.
Akhir-akhir ini pasar tradisional baik di Jakarta maupun di daerah terus melakukan pembenahan, disamping pembenahan manajemen, juga melakukan renovasi ataupun peremajaan pasar. Salah satu yang dibutuhkan oleh pengelola pasar adalah pernyempurnaan manajemen, kredit kontruksi, kredit kepemilikan kios ataupun kredit modal kerja. Dengan keberpihakan pemerintah, dunia perbankan, swasta dan upaya pengelola pasar akan memberikan iklim yang kondusif terhadap perkembangan dan eksistensi pasar tradisional.
Kehadiran Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern dan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 53 Tahun 2008 akan memberikan angin perubahan atau tidak sama sekali apabila tidak ada upaya-upaya serius baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.
Salah satu tujuan ASPARINDO adalah menghimpun, membina dan mengembangkan potensi para pengelola perpasaran sebagai penyedia sarana perpasaran yang tangguh dan mandiri dan membantu mewujudkan adanya usaha-usaha yang terpadu dan terarah dalam rangka memperbaiki dan memenuhi seluruh aspek pengelolaan perpasaran.
Adanya Asosiasi ini diharapkan mampu memberikan solusi, alternatif jalan keluar serta kebersamaan dalam menentukan sikap dan arah agar pasar tradisional tetap eksis dan berkembang menjadi pasar tradisional modern yang kokoh dan berdaya saing global.
WAKTU DAN TEMPAT
Musyawarah Nasional Asosiasi Pengelola Pasar Indonesia akan di adakan pada tanggal 18 – 20 Juli 2011 di Aryaduta Hotel Jl.Prapatan No. 44 - 48, Jakarta
PESERTA
Peserta yang hadir dalam acara Musyawarah Nasional Asosiasi Pengelola Pasar Indonesia adalah Kepala Dinas/Kepala Pengelola Pasar/Direksi BUMD/PD Pasar di seluruh Indonesia.
Selasa, 21 Desember 2010
Rabu, 01 Desember 2010
Senin, 08 November 2010
Grand Design Pengelolaan Pasar Mumbul
| Unit Pasar Mumbul/Loak Singaraja |
Pasar Mumbul yang oleh Masyarakat lebih dikenal sebagai Pasar Loak, sejak mengalami rehab total oleh Pemkab Buleleng dan diresmikan oleh Bupati Buleleng pada Tanggal 27 Pebruari 2007, dengan bangunan megah berlantai II dengan lokasi di Pusat Kota Singaraja yaitu di Jalan A.Yani Singaraja dengan pintu masuk utama terletak di Jalan Angrek dengan konsep awal bahwa dengan dibangunnya pasar ini akan menjadi solusi untuk mengatasi kesemberawutan dan kelebihan pedagang di Pasar Anyar Singaraja dan terbukti setelah di resmikan sudah dilakukan langkah-langkah relokasi dengan mendata pedagang yang tidak mempunyai hak registrasi di Pasar Anyar Singaraja dan meralokasinya ke Pasar Mumbul namun hal ini hanya berlangsung singkat kurang dari sebulan pedagang-pedagang tersebut satu demi satu hilang dan kembali ke Pasar Anyar Singaraja sehingga sampai saat ini Pasar Mumbul yang terisi oleh pedagang hanya di Lantai I itupun tidak semua tempat terisi dan kebanyakan ditempati oleh pedagang loakan dan burung dan di Lantai II sama sekali tidak terisi oleh pedagang sehingga oleh sebagaian besar masyarakat menilai bahwa bangunan di Lantai II tersebut mubazir.
Adapun potensi Pasar Mumbul sekarang adalah Toko 11 dan Los 115 sehingga berjumlah 126, sehingga boleh dikatakan potensinya sangat kecil dibanding dengan kwantitas yang dimiliki.Dengan adanya masalah seperti ini membuat pihak Direksi berpikir keras bagaimana bisa mengangkat potensi pasar ini sehingga muculah ide dan gagasan oleh Direksi melalui Direktur Utama untuk merevitalisasi Pasar Mumbul dengan memanfaatkan Lantai II untuk tempat penjualan buku-buku bekas atau baru dengan harga yang murah atau terjangkau oleh masyarakat luas disamping itu juga untuk penjualan Komputer PC dan Laptop Bekas.
Untuk di Lantai I di rencanakan akan di pergunakan sebagai Pujasera ( Pusat Jajanan Serba Ada ) yang akan menampung makanan-makanan khas Buleleng sehingga sektor ekonomi kerakyatan akan tersalurkan dan untuk kenyamanan pengunjung disana akan disediakan akses internet gratis ( Free Wifi ) bagi pengunjung sambil menikmati makananan yang dipesan.
Dengan konsep seperti diatas yang menjadi kendala adalah siapa yang akan berjualan terutama untuk buku bekas dan PC atau Laptop bekas maka oleh karena itu Direktur Utama beberapa waktu yang lalu sudah melakukan study banding sekaligus menjajagi investor yang kemungkinan akan memanfaatkan fasilitas di Lantai II tersebut.Namun yang menjadi pertanyaan apakah Pemkab akan menyetujui konsep ini dan apakah Pemkab akan mau menyediakan lahan baru untuk merelokasi para pedagang loak yang berjualan saat ini.Dan untuk suksesnya program ini perhatian Pemkab dan Masyarakat sangat diperlukan khususnya adanya kerja sama yang baik dari Pedagang yang berada di Pasar Mumbul sekarang, walaupun ini masih sebatas wacana namun jika mendapat dukungan dan persetujuan Pemerintah Kabupaten kami hal ini pasti akan terwujud.by:parjoe
Adapun potensi Pasar Mumbul sekarang adalah Toko 11 dan Los 115 sehingga berjumlah 126, sehingga boleh dikatakan potensinya sangat kecil dibanding dengan kwantitas yang dimiliki.Dengan adanya masalah seperti ini membuat pihak Direksi berpikir keras bagaimana bisa mengangkat potensi pasar ini sehingga muculah ide dan gagasan oleh Direksi melalui Direktur Utama untuk merevitalisasi Pasar Mumbul dengan memanfaatkan Lantai II untuk tempat penjualan buku-buku bekas atau baru dengan harga yang murah atau terjangkau oleh masyarakat luas disamping itu juga untuk penjualan Komputer PC dan Laptop Bekas.
Untuk di Lantai I di rencanakan akan di pergunakan sebagai Pujasera ( Pusat Jajanan Serba Ada ) yang akan menampung makanan-makanan khas Buleleng sehingga sektor ekonomi kerakyatan akan tersalurkan dan untuk kenyamanan pengunjung disana akan disediakan akses internet gratis ( Free Wifi ) bagi pengunjung sambil menikmati makananan yang dipesan.
Dengan konsep seperti diatas yang menjadi kendala adalah siapa yang akan berjualan terutama untuk buku bekas dan PC atau Laptop bekas maka oleh karena itu Direktur Utama beberapa waktu yang lalu sudah melakukan study banding sekaligus menjajagi investor yang kemungkinan akan memanfaatkan fasilitas di Lantai II tersebut.Namun yang menjadi pertanyaan apakah Pemkab akan menyetujui konsep ini dan apakah Pemkab akan mau menyediakan lahan baru untuk merelokasi para pedagang loak yang berjualan saat ini.Dan untuk suksesnya program ini perhatian Pemkab dan Masyarakat sangat diperlukan khususnya adanya kerja sama yang baik dari Pedagang yang berada di Pasar Mumbul sekarang, walaupun ini masih sebatas wacana namun jika mendapat dukungan dan persetujuan Pemerintah Kabupaten kami hal ini pasti akan terwujud.by:parjoe
Sabtu, 23 Oktober 2010
PD Pasar News
![]() |
| Direksi dan Staf PD.Pasar Kabupaten Buleleng |
Jum'at 22 Oktober 2010, Seluruh jajaran PD.Pasar Kabupaten Buleleng melaksanakan persembahyangan bersama di Kantor PD.Pasar dan Pura Melanting Pasar Buleleng serangkaian pujawali yang jatuh pada hari Purnama sasih Kelima,selain melaksanakan persembahyangan hari ini juga bertepatan dengan hari pertama pelaksanaan Surat Edaran dari Pemerintah Propinsi Bali yang mengimbau agar setiap hari Purnama dan Tilem seluruh pegawai yang beragama Hindu memakai pakaian adat dan melaksanakan upacara persembahyangan.
Dalam kesempatan itu Direktur Utama juga menyerahkan Dana Punia kepada pengempon Pura Melanting Pasar Buleleng.
Walau masih terasa asing menggunakan pakaian adat untuk melaksanakan aktivitas pekerjaan di kantor dengan berjalannya waktu hal ini akan menjadi kebiasaan pada Hari Purnama dan Tilem.by parjoe
Senin, 04 Oktober 2010
Ucapan HUT TNI
Seluruh Direksi dan Staf PD.Pasar Kabupaten Buleleng
Mengucapkan
" DIRGAHAYU HUT TNI KE-65 "
TANGGAL 05 OKTOBER 2010
SEMOGA TNI SELALU JAYA DAN SUKSES DALAM MENGEMBAN TUGAS NEGARA
Sabtu, 25 September 2010
Rabu, 22 September 2010
Direksi PD.Pasar 2010-2014
![]() | |||
| Pelantikan & Pengambilan Sumpah Jabatan |
Singaraja,02 Juli 2010 secara resmi telah dilantik dan diambil sumpahnya Direksi PD.Pasar Kabupaten Buleleng Periode 2010-2014 yang akhirnya setelah melalui proses seleksi yang ketat terpilih sebagai Direktur Utama : I Gde Putu Satwika Yadnya, MSc, Direktur Oprasional : Made Agus Yudiarsana, SH dan Direktur Keuangan dipercayakan untuk kedua kalinya kepada Mira Pryacitta, SE.
Dipundak mereka inilah nasib dan masa depan PD.Pasar Kabupaten Buleleng di percayakan bukan hal mudah memang mengendalikan dan memperbaiki sistem dan menejemen perusahaan yang selama ini belum optimal maka oleh karena itu menurut I Gde Putu Satwika Yadnya, MSc sebagai leader di PD.Pasar menyatakan bahwa menejemen yang baik agar selalu mengedepankan Komunikasi, Informasi dan Singkronisasi yang disingkat KIS.
Dan terbukti kurang lebih 4 ( empat ) bulan memimpin PD.Pasar dengan metode KIS diatas mampu memberikan perubahan dan menejemen yang lebih baik dan secara umum apa yang menjadi kendala dari Direksi sebelumnya mampu diatasi dan selesaikan termasuk penerapan tarif berdasarkan Perda No.4 Tahun 2009 yang awalnya bergejolak dan dengan pendekatan yang dilakukan perlahan-lahan kesadaran masyarakat pedagang mulai muncul dan mau membayar tarif sesuai dengan Perda tersebut.by:parjoe
Langganan:
Postingan (Atom)















